Tampilkan postingan dengan label #Ruswati Suwarni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Ruswati Suwarni. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2016

Bila Aku Menikah Nanti


Impianku selalu sederhana, hanya duduk bersebelahan denganmu didepan penghulu dan semua orang menyuarakan “sah...” sederhana banget kan?
 
Mungkin undangan bahagia kita  yang akan sampai ke teman-teman kita (temanku dan temanmu) berwarna Biru, warna kesukaanku. Warna yang menggambarkan betapa damainya orang yang sudah dipertemukan itu. Warna biru adalah warna yang mewakili betapa dalamnya rasaku padamu. Mungkin ada sedikit sentuhan warna Merah, warna berani. Karena kamu sudah berani datang kepada orang tuaku dengan membawa serombongan keluarga besarmu.

Mungkin tidak akan ada foto kita dalam undagan yang akan kita bagikan, cukup tulisan memohon do’a restu agar keluarga kita barokah. Format undangannya mungkin tidak dalam bentuk kertas yang nantinya akan dibuang begitu saja. Satu lembar samadengan satu pohon, sungguh sayang sekali pernikahan kita menyia-nyiakan pohon yang ada dibumi yang kuantitasnya tentu sudah berkurang semenjak ribuan taun silam.

Sekarang sudah jamannya kantong plastik berbayar di pasar swalayan, mungkin untuk menghemat plastik yang katanya indonesia masuk tiga besar penghasil sampah plastik. Miris bukan. Desain undangannya menggunakan tas kain, biar sedikit mahal kebermanfaatannya lebih panjang daripada kertas yang akan langsung dibuang.

Pesta pernikahan kita tidak usah yang mewah – mewah, sederhana saja. Asalkan semua orang bahagia dengan kebahagiaan kita. Makanan yang disuguhkanpun tidak perlu yang wah, yang penting enak dan terjamin kehalalannya, dan pastinya tidak usah yang mahal-mahal. Kita harus berhemat yang penting enak.

Kita juga tidak perlu mengundang biduan untuk menghibur orang – orang yang datang, bila ada rejeki alangkah baiknya mengadakan pengajian biar pernikahan kita dibekali dengan barokah. Kalaupun ada music, penyanyinya dilarang berbusana seksi. Itu pasti akan merusak matamu dan mata-mata para lelaki yang dating ke pernikahan kita.

Impianku sederhana itu, kalau boleh olehmu. Tapi, kapan kamu mewujudkan mimpiku itu?

Minggu, 23 Agustus 2015

K.E.M.E.R.D.E.K.A.A.N

sumber gambar : google

Cinta itu Jauh…
Cinta dan kemerdekaan.  Dimana-mana banyak tulisan yang mendefinisikan arti kemerdekaan. Mungkin karena kita baru merayakan momen kemerdekaan kita yang ke 70 pada tanggal 17 Agustus kemarin. Seperti warga Indonesia pada umumnya, upacara kemerdekaan dilalui dengan sangat antusias. Berbagai tumpeng kemerdekaan dibuat untuk menggambarkan senangnya bangsa yang merdeka itu.
Tak mau ketinggalan, berbagai perlombaan diadakan untuk memperingati betapa keras perjuangan para pejuang bangsa dulu. Salah satunya lomba panjat pinang misalnya.. para pejuang bahu membahu merebut gelar kemerdekaan meski letih, meski terinjak, dan meski..meski yang lainnya. Begitulah….
Bagaiamana kalian memperingati K-E-M-E-R-D-E-K-A-A-N?  Tapi apa hanya sekedar sebuah peringatan saja? Kalian bisa menjawab sendiri atas pertanyaan ini, itu jika kalian mau. Pertanyaan seperti ini sifatnya tidak memaksa. Bahkan jika kalian menjawab apa artinya sebuah jawaban tanpa tidakan yang nyata? Ah, sudah lupakan.
Katanya, merdeka itu jika kita berhenti mencerca keadaan sekeliling kita dan mulai melakukan tindakan nyata untuk bangsa. Tuhan mengahdiahkan kita 86.400 detik sehari. Lalu apa yang kita gunakan untuk bangsa? Mari merengung…!!
Katanya, merdeka itu jika kita bisa menguasai diri sendiri untuk tidak menguasai orang lain…
Katanya, merdeka itu jika kita bisa mengendalikan hawa nafsu kita untuk tidak menyakiti orang-orang disekeliling kita…
Katanya, merdeka itu ketika kita bisa memerdekakan orang yang tidak beruntung dari kita…
Katanya, merdeka itu jika kita tidak menjajah bangsa kita sendiri…
Katanya, merdeka itu jika kita bisa melawan perbedaan yang ada..
Katanya, merdeka itu jika kita tidak memusuhi teman sendiri..
Katanya, merdeka itu jika kita tidak iri dengan milik orang lain…
Katanya, merdeka itu ketika kita peduli terhadap bangsa kita sendiri..
Katanya, merdeka itu berbicara tentang diri kita sendiri.
Seperti apa sih, merdeka itu?
Apa merdeka samadengan cinta tanah air? Kata agama gue salah salah satu haditsnya bahwa “cinta tanah air sebagian dari iman” mencintai tanah air adalah fitrah manusia yang wajar bahkan nabi pernah bersabda “Demi Allah, sungguh engkau (kota Makkah) betul-betul bumi Allah yang paling baik dan tanah yang paling dicintai Allah, sekiranya aku tidak dipaksa keluar oleh kaumku, tidaklah aku keluar darimu (Makkah)” (HR Ibnu Majah) betapa nabi mencintai tanah airnya sendiri.
Sudah sepantasnya kita bersyukur karena terlahir diatas bangsa yang merdeka secara fisik. Liat perjuangan para pahlawan terdahulu, yang membuat kebebasan yang kita nikamati sekarang. Kita berdo’a untuk mereka semua, yang memengang bambu runcing untuk mengusir para penjajah, untuk mereka semua yang mengangkat tangan tinggi-tinggi menggemakan takbir diseluruh negeri untuk membebaskan diri dari para penjajah, untuk mereka semua yang telah mengorbankan jiwa, raga dan hartanya untuk kebebasan yang kita rasakan sekarang, untuk mereka semua jihad dan darah para suhada yang membela Negara kita tercinta memerangi penjajah yang menyengsarakan mereka, berdo’alah untuk mereka semua dan bersyukurlah karena kita tidak berada pada kondisi yang sama seperti dulu. Berterimakasihlah dengan mendo’akan mereka.
Semoga kita tetap menjadi manusia yang merdeka, manusia yang tetap berada pada jalan kebenaran. Merdeka adalah ketika kita bisa mendapat ridhoNya. ridhoNya didapat jika kita mengantongi ridho orang tua. Jika ingin menjadi orang yang merdeka, selalu mintalah Ridho orang tua untuk apa yang akan kita lakukan nantinya. “Ridhanya Allah ada pada ridha orang tua, murkanya Allah ada pada murkanya orang tua” mari membuat diri kita merdeka dengan mengantongi ridha orang tua.
Begitupun dengan cinta. Ketika kau yakin akan pilihan cintamu mintalah ridha orang tua. Ridha orang tua jauh lebih penting daripada pilihan yang kau yakini.
Cinta itu jauh…

Sekali lagi, cinta itu jauuuuuh jika kau tidak mengantongi restu orang tuamu. Dan cinta itu jauh jika cintamu tak direstui orang tuanya juga. Mungkin sudah saatnya Kamu harus memerdekakan cintamu juga dengan meminta restu mereka, orang tuamu dan orang tuanya. #eaaa

Sabtu, 25 Juli 2015

yang datang Dibiarkan pergi

sumber gambar : google


Hari-hari gue sedang dipenuhi soal cinta. Gue jadi teringat serentetan kejadian sejak tahun 2015 menyapa. Banyak hal yang gue lalui dan banyak juga itu merupakan hal yang sia-sia. Tapi seperti biasa kita tak pernah bisa memutar waktu. Kita akan selalu menyesal setelah waktu berlalu begitu saja.
Kalo orang Indonesia selalu punya jam karet kira-kira jam apa yang dipake oleh ‘menyesal’? gue masih nggak ngerti kenapa dia selalu datang terlambat dan tak jarang dia datang paling akhir saat semuanya tak baik-baik saja berjalan sesuai keinginan kita. Kenapa?
Nggak terasa puasa udah berakhir dan akan segera dirindukan kembali kedatangannya. Gue kadang suka nyengir kuda kalo masa lalu gue tiba-tiba berjalan dengan lambat didepan gue.
Seperti sedang melihat serial drama yang penuh dengan warna. Kadang begitu menakutkan melebihi hantu. Tidak. Hantu itu tidak menakutkan, yang menakutkan itu orang jahat, Manusia yang pura-pura baik.
Kadang seseorang didatangkan kepada kita bukan untuk menjadi takdir kita. Tapi kadang ia didatangkan hanya untuk menguji kita. Ujian akan terus datang hingga akhir waktu, iya kan?
Saat ini gue begitu Labil, itu wajar kan untuk seorang perempuan yang belum bisa dikatakan dewasa? Udah gede sama udah dewasa beda kan? Untuk hal apapun gue belum cukup gede untuk disebut dewasa.
Gue mau cerita soal seseorang yang datang tapi dibiarkan pergi. Sedikit mengungkit masa lalu, dulu saat semester satu gue sempet mau nikah dengan seseorang. Dari informasi yang terpercaya (orang tua gue) katanya dia itu suka sama gue sejak gue SMP dan dia baru memberanikan diri menyatakan cintanya ke gue saat gue duduk dibangku putih abu-abu. Karena dorongan dari orang tua gue, gue menerimanya pada waktu itu.
Ceritanya, dia itu belum punya modal buat nikah tapi udah pengen cepet nikah sama gue. aneh kan? Jadi dia itu menjadi TKI di Taiwan biar dapet duitnya cepet kata orang kerja diluar negri. Yaiyalah, liat aja UMR Indonesia berapa? Eh nggak usah dibahas soal itu.
Kita kembali lagi ke orang itu, orang tuanya dia mendesak biar gue mau tunangan dulu sama dia dan kalau udah lulus baru deh nikah tapi kalau gue kuliah dia bakal kerja diluar negeri lagi kurang lebihnya gitu.
Dan gue menolak itu pada saat itu. Bukan gue nggak mau nikah sama dia, gue mau Cuma guenya yang nggak bisa. Alasannya nggak bisa gue sebutkan. Intinya gue masih muda, gue nggak mau aja jadi orang yang nggak menikmati masa muda gue apalagi gue orang yang nggak bisa LDR.
Kata mama, menikah itu ngejalaninya bakal lama, seumur hidup jadi jangan terburu-buru harus dipikirkan baik-baik (nasab, nasib, nisob) #eah
Dan waktu berjalan, pas gue udah kuliah saat gue dipondok. Gue mendengar kabar kalo dia menikah dengan seorang perempuan dari kota yang selalu bercahaya (Cilacap). Gue sedikit syok. Kok bisa? Perasaan putus dari gue baru beberapa bulan udah mau nikah aja.
Tuhan itu adil kan? Dari segi psikologis saat itu gue belum siap menikah sekarangpun sebenernya juga belum siap. Tapi kata orang menikah itu bukan masalah siap atau tidak siap. Tapi sampai sekarang gue masih menjaga hubungan baik dengan orang itu. Dia beberapa kali masih suka silaturahmi kalo lebaran kerumah gue bareng istrinya beserta anaknya. Karena dia emang udah deket banget sama keluarga gue, terutama mama gue.
Kemudian orang-orang datang ke kehidupan gue, silih berganti. Selama gue kuliah dan hampir mau selesai setidaknya ada lima orang mungkin yang ngajak gue nikah. Gue jadi mikir, mungkin umur gue udah pas kali ya buat diajak kea rah situ? Dulu gue kan masih suka pacaran jadi kalo diajakin nikah itu adalah momok yang menakutkan. Ngapain nikah muda?
Dan sekarang saat gue pengen nikah nggak ada deh yang ngajak nikah. Derita gue. #ehh
Sebenernya gue sih mau nikah, tapi bukan sekarang. Setelah gue wisuda. Tapi nikah itu kan Rahasia Allah. Kemarin juga belum lama, saat gue KKN gue dicomblangin sama sodara gue. gue disuruh kenalan dulu sama kenalannya sodara gue, karena gue nggak enak sama sodara gue akhirnya gue mau deh PDKT dulu, aslinya gue males banget.
Saat pertama kali ketemu sama dia, hati gue langsung menolak. Gue nggak mau sama orang itu. Akhirnya gue memikirkan berbagai cara biar dia yang mundur duluan. Gue kasih mentahannya gue. gue nunjukin langsung semua sifat gue. dari super duper cueknya gue, de el el
Seminggu dua minggu dia masih intens kepoin gue ini dan itu, guepun ngejawab semau gue. lalu tiba saatnya dia bilang dia mau ngelamar gue, meminta gue ke orang tua gue. biasanya cewe kan bakal klepek-klepek kalo ada yang bilang mau dilamar. Gue sih enggak.
Gue bilang tuh, gue nggak mau dululah lamar-lamaran kaya gitu. Gue kan lagi KKN, belum ngerjain skripsi pula. Alasan pendidikan itu selalu jadi nomer one buat gue. gue bilang ke dia biar saling kenal dulu baru deh kalo dia udah mantep boleh ngomong ke babeh kalo putri kesayangannya akan dijadikan sebagai permaisyuri #Jajajaja
Gue kan setiap hari ngasih mentahannya gue kaya gimana, dan mungkin karena dia nggak bisa mencintai gue apa adanya, dengan segudang kekurangan gue akhirnya lama-kelamaan dia mundur. Dia udah jarang ngasih sms yang selalu gue cuekin, bla bla bla dan akhirnya dia menyerah untuk meminang gue.
Sebenernya dia itu baik, tapi hati gue menolak kebaikannya. Bego banget gue, yang datang dibiarkan pergi. Gue nggak suka aja, dia itu ngrokok, gue paling benci sama cowo perokok. Kemudian dia itu agamanya kurang, gue pengen suami gue kelak punya pendalaman agama yang lebih dari gue, yang selalu menstabilkan keimanan gue yang suka naik turun.
Selain itu, bahasanya juga kasar dan dia itu cuek nggak perhatian. Gue tuh orang yang cuek dan gue nggak mau dapet orang yang cuek juga. Gue itu wanita, dan wanita itu nggak bisa hidup tanpa perhatian, iya kan? Semua pria tau kalo wanita nggak bisa hidup tanpa itu.
Gue suka ketika cowo gue nanyain udah makan belum? Udah solat belum? Udah mandi belum? De es be. Gue suka diperhatikan untuk hal-hal kecil yang kadang gue suka lupa dan melupakannya. Gue paling sebel kalo pacar gue nyuekin gue seharian tanpa kabar. Dia lagi ngapain, dimana, sama siapa, gue nggak bisa hidup dengan hubungan seperti itu.
Dan gue paling sebel kalo ada cowo yang deketin gue, selalu sms gue tiga kali sehari kaya minum obat, nanyain gue ini, itu, gue sebel sama orang yang sok deket. Emang dia siapanya gue? #hahaha
Gue itu susah dimengerti, makanya gue nyari pendamping yang bisa ngertiin gue. dan belum lama, ramadhan kemarin. Mantan gue dulu banget tiba-tiba sms gue ngajak ketemuan katanya ada hal penting yang mau diobrolin.
Gue kan bukan tipe yang suka basa basi, jadi gue pengen dia langsung ke poin yang mau diomongin. Katanya dia itu pengen ketemu ortu gue, boleh apa kagak gitu. Lalu gue nanya ketemu buat apa? Gue suka menjawab jawaban dengan pertanyaan. Bertanya adalah hobi gue.
Katanya lagi, dia itu pengen ngobrol serius dengan babeh soal gue. katanya pula, dia itu mau keluar negri buat kuliah. Gue Tanya mau kemana dianya nggak njawab, malah bilang ada lah. Aneh, emang gue nggak berhak tau ya?
Dia sebenernya pengen mastiin dia masih ada harapan apa enggak hidup sama gue. ceritanya dia itu cinta mati banget sama gue, katanya. Gue langsung bilang blak-blakan banget kalo nggak akan ada harapan, kecuali jika ia terus berharap pada-Nya.
Katanya dia juga belum siap buat nikah, katanya minimal taun depan dia siap. Terus ngapain ngomong serius kalo belum siap? Bikin dosa aja. Yang jelas gue bilang udah nggak ada kesempatan. Gue sih nggak bilang alasan sebenernya ke dia. Bukan nggak bisa, tapi gue nggak mau.
Ketika kita disakitin orang lain, bukan berarti kita juga harus menyakiti orang lain juga. Pedoman gue sih seperti itu. Sebenernya sih gue masih sakit hati sama dia, banget.
Ceritanya. Pada jaman dahulu kala, dia itu pernah ngerjain gue lewat sms. Dia mengaku sebagai temannya padahala itu dia sendiri. Dia ngatain gue ini dan itu pokonya bahasanya nggak bermoral banget. Seumur hidup gue Cuma dia yang ngehina-hina gue kasar banget seperti itu. Kalo ngehinanya itu suatu kenenaran sih gue masih bisa terima, dia ngata-ngatain gue yang nggak sesuai dengan gue. intinya gue itu keliatan nista banget dimata dia, dia ngakunya senagai temannya dia padahal itu dirinya sendiri.
Saat itu gue nangis darah, gue cerita ke mamah. Gue heran kenapa ada orang yang ngatain gue untuk hal-hal yang nggak pernah gue lakuin. Gue sedih banget kala itu. Gue sakiiiiit banget intinya. Nggak bisa digambarin deh sakitnya kaya apa.
Gue jadi mikir, katanya dia cinta ke gue. tapi kenapa harus seperti itu bentuk kecintaanya? Dengan menghina-hina gue. mungkin dia udah lupa, tapi gue masih inget dengan jelas setiap kata-kata yang diucapkannya.
Gue berusaha memaafkan, karena gue bukan orang yang suka ngebenci orang. Gue sebisa mungkin nggak ngeliat mukanya, biar gue lupa sama omongannya. Tapi dia selalu ngejar-ngejar gue seolah-olah dia itu makhluk tersuci didunia.
Sebenernya ilmu agamanya baik, tapi dia mencintai manusia secara berlebihan dan buat gue itu bukan sesuatu yang baik. Gue udah masukin dia ke black list abadi gue.
Dan masalahpun datang, temen-temennya datang menyalahkan gue. katanya gue nggak tau dirilah, inilah, itulah. Katanya gue penyebab terpuruknya dia, penyebab frustasinya dia, dan gue adalah penyebab segala-galanya buat dia kata teman-temennya. Buat gue itu beban berat buat psikologis gue.
Dan gue memutuskan untuk mengulurkan tangan gue. gue sesekali menyapadengan maksud biar temen-temennya seneng dan gue nggak disalah-salahin terus. Gue menyamngatin dia biar terus menjalani hidup tanpa gue. gue nggak mau jadi penyebab terpuruknya hiddup seseorang.
Gue kurang baik apa coba? Gue menekan rasa sakit gue demi dia. Dan gue nyoba minta tolong kedia. Gue bilangnya buat tugas kuliah gue, sebenrnya nggak ada tugas seperti itu, gue Cuma pengen tau seberapa care sih dia ke gue. dia dengan senang hati membantu gue, menurut gue sih gitu.
Tugas gue udah selesai, dia cepet banget mengerjakan tugas dari gue. dan dia sms minta ketemu sma gue buat nyerahin tugasnya. Saat itu gue lagi di cendana, gunung bunder. Lagi acara Pecapa *Pramuka*
Otomatis gue nggak bisa ketemu kan.katanya dia buru-buru mau pergi ke jogja atau keman gitu waktu itu. Jadi gue minta tolong kedia buat nganterin itu kerumah gue ditiitpin sama orang yang ada dirumah gue.
Gue kira keputusan gue itu nggak salah. Rumah gue adalah tempat teraman buat gue, tai dia memahaminya lain. Dia mengira gue nggak mau ketemu sama dia. Pokonya dia selalu punya pikiran buruk dengan gue.
Dia bilang gue gak tau berterima kasihlah, inlah, itulah. Katanya dia ngebela-belain nunda keberangkatannya demi gue. dan gue malah nggak tau terimakasih dan nggak mau ketemu sama dia. Gue ngejelasin kedia posisi gue yang nggak memungkinkan. Tapi dia nggak bisa ngerti. Gue sih nggak membenci mereka yang nggak bisa ngertiin gue, Cuma menyayangkan aja. Gue jarang banget mau menjelaskan keslahpahaman orang tentang gue, tapi gue dengan rela menjelaskan keadaan gue dan dia tetep nggak mau ngerti.
Itu sifat buruknya yang gue nggak suka. Dia curhat dengan teman-temannya. Otomatis menjelek-jelekkan gue dan dengan pemahamannya tentang gue. dan temen-temennya langsung meneror gue. ngatain gue ini dan itu. Intinya gue adalah cewe yang nggak tau terimakasih.
Terutama mas Luthfi dan mas Nabil. Kalian Cuma mendengarkan dari sebelah pihak. Dan mereka lebih mempercayai pemikiran sahabat mereka. Gue sebel banget dan gue nggak ada rencana menjelaskan kemereka. Bukan karena gue nggak bisa, tapi gue nggak mau.
Sampai ada kata-kata yang begitu menyakitkan. Ada mas-mas yang bahkan berasa Tuhan. Tau mana yang paling bener, ngrasa dirinya paing bener. Memberikan dalil yang panjang kali lebar.
Selalu berakhir buruk padahal niat gue baik.gue mau mencoba menjaga silaturahmi yang sempet terputus sama mantan gue itu. Dan saat itu gue udah nggak mau tau lagi apa yang terjadi sama orang itu. Dan dengen pedenya dia datang lagi kegue kemaren saat Ramadan. Seolah-olah dia makhluk tersuci didunia. Gue ilfil banget, tapi gue selalu menahan semua itu.
Gue selalu memberikan senyuman meski gue nggak pengen tersenyum. Gue nggak benci sama orang itu, gue hanya ‘nggak suka’ aja. Dia datang, dan dibirkan pergi.
Dan banyak yang datang, lalu gue biarkan pergi begitu aja. Bukan karena gue pengen dapet yang terbaik. Gue hanya mencari sesoerang yang mengajak gue untuk hal-hal yang baik. Tuhan tau apa yang gue rasain.
Gue bener-bener gak mau nikah sekarang. Gue mau nyelesein pendidikan gue dulu, dan gue lagi memperbaiki diri. Allah tau gue lagi berjuang untuk hal-hal baik dan semoga perjuangan gue gak sia-sia nantinya. Siapapun jangan racuni gue untuk nikah cepet ato semacamnya. Apalagi pacaran! Gue akan menolak keras! #arg!!


Kuyakin cintaku datang tepat waktu, jika bukan dia pasti kamu

sumber gambar : google

Ketuahuilah dengan mengingat Allah, tenang tentramlah hati manusia
[QS. Ar-Ra’d; 28]

Banyak cara cinta datang kedalam hati manusia, salah satunya dengan bersedia menunggunya. Hanya ini yang bisa gue lakukan untukmu pangeran. Gue Cuma bisa mengungkapkan cinta gue yang begitu besar melalui tulisan tulisan ini. Gue nggak berharap kamu akan membaca ini, tapi gue yakin Allah akan menyampaikannya dengan cara-Nya.
Aah`
Setan dan antek-anteknya terus membisikkan gue kata-kata yang membuat gue jadi tidak sabar untuk menunggumu pangeran. Saat ini gue lagi galau berat. Kenapa?
Jadi begini…
Gue punya tetangga yang memiliki dua anak gadis. Ceritanya tadi malam salah satunya tunangan dan satunya lagi bakal tunangan besok malam. Masalahnya mereka berdua usianya jauh lebih muda dibawah gue, tau sendiri kan kondisi masyarakat pedesaan hebohnya kaya apa? Kaya liat ayam melahirkan aja.
Jodoh itu kan rahasia Allah. Ketika jodoh mereka datang lebih dulu dari pada jodoh gue, gue nggak bisa berbuat apa-apa kan? Tapi kenapa tetangga-tetangga gue selalu mbanding-mbandingin gue dengan mereka yang jodohnya datang lebih dulu. Jadi galau berat kan gue.

Gue kadang suka males berada dirumah. Kadang gue berfikir mending di pondok aja. gue sebel banget kalo mereka ngomongin gue ini dan itu apalagi sekarang gue yang memutuskan untuk tidak pacaran. makin pedes aja omongan mereka. "loh kok aku nggak pernah liat kamu bawa pacar kerumah ya?" "loh kok nggak malam mingguan sama pacar?" "loh kok kemana-mana sendirian" dan loh loh yang lain.
gue sih cuek aja ya, tapi kasian mama gue. dia pasti udah pengen banget anak gadisnya menikah. kadang mama suka berfikiran anak gadisnya ini apa nggak laku-laku? gue suka ketawa kalo mama bilang kaya begitu. 
nggak perlu merusak alur yang diberikan tuhan kan? lagian gue juga aklan nikah nantinya. cuma bukan sekarang. yang pertama gue belum siap dan siapa tahu pangeran gue juga belum siap. jika saatnya sudah tepat jodoh pasti akan datang dengan cara yang tepat.
gue, kuliah aja belum kelar. udah mau nikah aja. emang sih banyak juga temen-temen gue yang masih kuliah udah nikah bahkan ada yang bawa anaknya ikut kuliah. itu kan kehidupan mereka jadi jangan disamain sama kehidupan gue dong.
gue cuman pengen dapat yang terbaik buat kehidupan gue kelak. bukan cuma mengajak gue untuk hal-hal baik didunia aja melainkan yang bisa selalu membimbing gue untuk kehidupan yang sesungguhnya kelak.
kuyakin cintaku datang tepat waktu, jika bukan dia! pasti kamu!!
gue selalu akan sabar menunggu, gue nggak akan sibuk galau galauan. yang harus gue lakuin sekarang adalah mengerjakan skripsi dan kemudian wisuda deh. cari kerja yang bener dan terus memperbaiki diri. pasti suatu saat Allah juga akan memberikan jawaban terbaik atas segala do'a do'a yang selalu gue panjatkan. semangat untuk memperbaiki diri! selamat yang sudah tunangan dan cepet nikah wahai para tetangga-tetangga gue.

Senin, 29 Juni 2015

Kesenangan yang tidak menyenangkan









Sebentar lagi masa liburan anak-anak sekolah berakhir, itu tandanya gue bakal segera mengajar. Gue tau ini bukan pertama kalinya gue mengajar, tapi tetep aja gue gugup. Selain gugup ada sesuatu perasaan yang aneh, perasaan yang tak terdefinisikan entah apa itu tepatnya gue nggak bisa menuliskannya dalam rangkaian kata-kata.
Gue nggak membayangkan kalo akhirnya gue memilih jalan untuk menjadi seorang guru, gue masih belum bisa menerima kenyataan yang gue pilih. Setiap manusia pasti kadang memiliki keinginan yang berubah-ubah setiap waktunya. Bukan plin-plan atau apa, tapi begitulah manusia kebanyakan.
Pada jaman dahulu kala, saat gue masih kecil ketika gue ditanya cita-cita gue, gue menjawab ingin menjadi dokter. Sebnernya bukan sepenuhnya keinginan gue ingin jadi dokter tapi karena kebanyakan temen-temen gue ingin jadi dokter maka gue mengikuti keinginan mereka karena gue ingin terlihat sama hebatnya dengan teman-teman gue.
Waktu berlalu dan keinginan jadi dokterpun mulai berlalu, kemudian saat gue kelas enam gue diajar sama guru yang begitu menginspirasi dan saat itu gue memutuskan untuk menjadi guru seperti beliau. Mungkin darisitulah keinginan gue menjadi seorang guru muncul.
Seperti impian orang pada umumnya hal itupun kemudian dilupakan, saat memasuki masa SMP gue pengen jadi seorang psikolog. Alasannya karena bu Titin, guru BK gue saat itu. Dia sosok yang luar biasa, dari kata-kata yang beliau ucapkan begitu menginspirasi dan kemampuan menasehati tanpa menggurui itu jadi alasan utama gue pengen jadi seorang psikolog.
Setiap orang punya masalah kan? Ketika orang hidup tanpa masalah itu pasti terlihat sangat membosankan. Dan itu juga menjadi masalah hidupnya karena menganggap tidak memiliki masalah. Gue pengen memberikan telinga gue untuk mendengar setiap keluh kesah orang-orang, mereka dengan senang hati menceritakan masalah mereka pada kita dan berharap kita bisa ikut menyelesaikan masalah mereka? Bukankah itu pekerjaan yang hebat?
Sangat jarang orang yang mau mendengar, sudah sifat manusia lebih banyak berbicara daripada memfungsikan telinganya dengan baik, itulah kenapa begitu banyak manusia egois yang bertebaran dimuka bumi ini, karena mereka jarang mendengar dan begitu sibuk dengan diri mereka sendiri.
Saat itu gue pengen menjadi sebagian manusia yang jarang ditemui itu, manusia yang memilih untuk lebih banyak mendengar. Membagi waktu kita untuk mendengarkan orang lain itu bukan perkara yang mudah. Mendengarkan, mungkin salah satu wujud untuk menunjukan pada dunia bahwa kita peduli.
Hari berjalan, lambat-lambat keinginan menjadi psikolog memudar dan menjadi seorang psikolog memang terdengar sederhana tapi ternyata tidak sesederhana kedengarannya.
Penulis. Kemudian gue berkeinginan menjadi seorang penulis. Gue dulu suka ngebaca majalah aneka yes! Gue menantikan cerpen-cerpen yang muncul disitu.
Lalu gue jadi lebih sering ke perpus pada saat itu, mulai membaca novel, hikayat, puisi, dongeng, cerita dan kebiasaan membacapun muncul begitu saja seiring dengan keinginan menjadi seorang penulis. Katanya penulis yang sombong adalah penulis yang tidak mau membaca karya orang lain, jadi saat itu gue memutuskan membaca karya-karya orang lain karena gue pengen jadi seorang penulis.
Gue mulai membuat cerita yang kemudian gue kasih secara Cuma-Cuma ketemen sekelas gue, gue belajar membuat puisi dan pelajaran bahasa Indonesia pada bab menulis itu menjadi pelajaran faforit gue kala itu.
Katanya yang membuat seseorang abadi adalah tulisan jadi jika kau ingin abadi maka menulislah. Keinginan menjadi seorang penulis semakin membara, apinya berkobar semakin besar.
Saat kita tidak bisa mengatakan sesuatu dengan mulut kita, menulis adalah cara yang paling bijak. Kita bisa mengeluarkan semuanya, sesuatu yang ada dihati kita, sesuatu yang ada dipikiran kita, kita bisa mengeluarkannya melalui pena, menakjubkan bukan?
Lagipula tulisan bisa dihapus, bisa diedit, bisa diperbaiki tidak seperti mulut kita. Tidak mungkin kan kita menjilat kembali ludah yang sudah dikeluarkan itulah kenapa banyak oarng yang lebih suka menulis daripada berbicara panjang lebar.
Buat gue, menulis adalah sesuatu yang mengalir begitu saja. Bahkan ketika tulisanmu hanya bisa kau nikmati sendiri itu tetap hal yang menakjubkan. itulah kenapa banyak orang yang hobi menulis buku diari.
Kita menulis apa yang kita baca dan membaca apa yang kita tulis, itu hal yang mengasyikan bukan? Gue nggak selalu berharap tulisan gue dibaca banyak orang bahkan gue sering berharap tak ada yang membaca ‘tulisan’ gue selain gue sendiri.
Saat itu menulis adalah cita-cita gue. Saat itu…
Hal-hal bisa berubah hanya karena waktu. Hebat bukan yang dimaksud dengan waktu. Bisa merubah segalanya, itulah hebatnya waktu.
Cita-cita gue jadi nggak jelas, gue pengen jadi ini, kemudian pengen jadi itu, dan lain sebagainya. Ketika gue sering liat film-film action, film amerika gue pengen jadi petarung hebat, gue pengen jadi salah satu agen FBI. Lucu kan? Xixi *abaikan*
Gue pernah pengen jadi arsitek juga saat itu ketika gue punya temen yang kuliah jurusan arsitek disolo, namanya Nana. Menurut gue arsitek itu keren meski lebih keren karya Tuhan, yaiyalah tuhan itu nggak bakal ada tandingannya.
Saat itu, gue pengen suatu saat mendesain rumah gue sendiri. Dulu gue memimpikan rumah yang seperti ada dikomik connan. Rumah yang memiliki ruang rahasia, bahkan ketika melihat doraemon yang labirin raksasa gue juga pengen membuat rumah yang ada labirinnya. Gue pengen punya rumah diatas pohon dan semua keinginan gue yang aneh-aneh. Gue suka berimajinasi ini dan itu.
Imajinasi itu segalanya dan begitu berharga buat gue. Bahkan dulu gue pengen membangun rumah ditengah hutan seperti dongeng Cinderella, membuat kastil yang indah didalam hutan. Mungkin gue bisa bertemu peri-peri, seperti kisah Tinkerbelle, Barbie, the lord of the rings. Gue juga kadang suka berharap gue punya lemari ajaib yang menghubungkan dunia gue kedunia lain seperti kisah Narnia.
Imajinasi gue suka berkeliaran entah kemana, menyenangkan banget ketika gue berjalan-jalan diatas imajinasi gila gue. Tapi gue mengakui itu salah satu hal menyenangkan dalam hidup gue, apa jadinya hidup tanpa imajinasi? Itu kedengaran seperti tidak memiliki harapan, tidak memiliki kepercayaan. Gue mempercayai apapun bahkan untuk hal-hal yang sulit dipercaya.
Ketika gue meilihat gambar-gambar yang indah gue belajar menggambar dan berkeinginan suatu saat gue jadi illustrator atau pelukis. Dan banyak keinginan yang berbeda ketika gue melihat sesuatu yang berbeda.
Pernah kepikiran jadi desainer, pengen merancang baju sendiri untuk dipake sendiri. Saat itu berasa membanggakan banget kalo terwujud.
Sekali lagi, waktu selalu merubah segalanya..
Ternyata sekarang gue bukan anak kecil lagi, gue udah gede atau setidaknya anak kecil yang terkurung dalam tubuh orang dewasa. Kadang gue lebih sering terlihat seperti anak-anak, dengan pemikiran anak-anak, tapi bukan berarti gue kekanak-kanakkan.
Dan saat ini cita-cita gue sederhana banget. Gue selalu menyimpan keinginan sederhana ini sendiri hingga saatnya gue bisa mengabulkannya. Gue pengen banget cita-cita yang ini nggak berubah kedepannya, gue pengen mewujudkannya dan semoga memang benar-benar terwujud. Amin
Ketika ternyata sekarang gue memilih jalan menjadi seorang guru semoga ini jalan yang terbaik yang Allah pilih buat gue. Pelan-pelan gue pengen mewujudkan impian sederhana gue itu, yang gue simpan sendiri sambil berjalan menjadi seorang guru. Guru yang menginspirasi banyak orang, guru yang dicintai, dan guru yang dirindukan murid-murid, semoga gue bisa menjadi guru yang sebeneranya. Guru buat diri gue sendiri, buat anak-anak gue nantinya dan gue pengen jadi guru yang tidak pernah menggurui siapapun.
Menjadi guru adalah kesenangan yang tidak menyenangkan. Semoga kelak akan ada seseorang yang mengajak gue keluar dari kesenangan yang tidak menyenangkan dan membawa gue pada kesenangan yang menyenangkan, kesenangan sesungguhnya. Semoga hari itu cepat datang. Hari-hari yang dilalui dengan hal-hal yang menyenangkan. Hari-hari penuh kesenangan yang menggembirakan. Hari itu… semoga kau cepat datang.
menjadi seorang guru! semoga gue bisa menjadi seorang guru yang bisa mengajar dengan ilmu dan mendidik dengan hati pada murid murid gue nantinya.

Minggu, 07 Juni 2015

Jangan kau Bohong

sumber gambar : google


Gue terinspirasi sama lagunya fatin yang jangan kau bohong makannya gue nulis ini kawan. Selain itu, akhir-akhir ini kasus pelaporan penipuan makin sering bergentayangan menghantui layar kaca kita setiap hari. Waaah, miris. Sangat.. kebohongan ada dimana-mana dan pembohong semakin merajalela berkeliaran dimuka bumi. *hancurkan*

Bohong, sesuatu yang kayaknya semua orang pernah nglakuin baik sengaja maupun enggak. Ngaku aja deh pernah bohong kan? Hayo siapa yang dibohongin? Yapz, gue pernah bohong dan dibohongin juga pernah. Oke, kali ini gue Cuma mau ngebahas soal ngebohong.

Buat gue, sebenarnya nggak ada bohong yang baik meskipun dengan alasan apapun. Bohong itu sesuatu hal yang tidak baik kan, jadi mana ada bohong demi kebaikan. Bohong tetep bohong dan bener banget kalo udah bohong pasti bakal mudah untuk bohong-bohong yang lain, gue pernah kok sengaja bohong sekali niatnya eh malah jadi keterusan bohong dan karena gue nggak mau terus-terusan bohong akhirnya gue mengakui kebohongan gue. Dan minta maaf. (mengakui dan minta maaf, itu hal yang sulit. Loh) Bohong soal apa? Itu rahasia gue.

Hal tersulit didunia yaitu berbohong pada anak-anak. ciusan susyyah banget. Secara mereka itu makhluk yang apa adanya banget kan ya masa iya si dibohongin kan nggak mudah dan gue paling nggak bisa bohong sama mereka.

Sebenernya paling baik itu jujur. Gue yakin banget teman, kalau jujur itu sikap yang paling baik meski kadang kejujuran itu menyakitkan untuk beberapa kalangan orang. Tau kan pepatah lama yang mengatakan kalau “kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana” pokoknya harus selalu jujur dimanapun berada dari sabang sampai mauroke nggak boleh bohong, titik!

Dengan alasan apapun kita emang nggak boleh bohong kan. Tapi ya kalo kalian jadi tim penyidik tentunya bohong diperlukan untuk mengungkap kebenaran. Nah loh, jadi sebenernya bohong itu boleh apa enggak dong? Kalo gue sih tetep nggak boleh bohong sebisa mungkin jangan bohong pokoknya, entah dengan kalian. Intinya gue pengen terus jujur, jujur dengan diri gue sendiri, jujur sama orang lain, jujur sama semuanya. Gue tau sakitnya dibohongin dan gue juga nggak pengen nyakitin siapapun dengan berbohong.

Tidak peduli seberapa kuat kita menerima kebohongan. Kebenaran yang mati-matian kita tolak dan tak peduli seberapa keras kita menutup telinga dan seerat apapun kita menutup mata. Kebenaran akan selalu berdiri tegak ditempatnya. Karena kebenaran tak akan bisa bersembunyi terlalu lama. Jadi jangan coba-coba berbohong, ya!!!

Selamat belajar menjadi orang jujur buat diri gue sendiri. Apa yang kita tabur, itu yang nantinya bakal kita panen. Jangan jadi penipu yang suka bohong, jangan jangan jadi tukang bohong yang doyan nipu orang. What you give, you’ll get it back.