Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juni 2014

Aku hamil, mas..



“Aku hamil mas?”
“Benarkah Dhe? Kamu lagi tidak bercanda kan?” kata Damas kaget, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Dhea barusan
“....” Dhea menggelengkan kepala sambil senyum-senyum tanda bahagia.
Damas memeluk istrinya, bahagia. Setelah Tujuh tahun pernikahan, akhirnya Tuhan mempercayakan mereka berdua untuk sebuah momongan. Damas memeluk istrinya dan menciuminya dengan mesra.
“Sekarang apa Dhe? Mama sama bapak harus tahu. Mereka pasti senang akan punya cucu”
“...” Dhea menggangguk mengiyakan, akhirnya dia menjadi wanita sempurna.
“Dhe, makasi banget ya”
“Nenek juga harus tahu, dia pasti akan sangat senang. Waktu itu kan nenek sakit karena kepengin cicit dari kamu Mas”
“Lakuin Dhe, makasih” Damas mengusap rambut Dhea dan mencium keningnya
“Aku seneng kok Mas bisa mengandung anak kamu, nglahirin anak kamu, ngrawat anak kamu, aku senang menanti itu semua terjadi. Makasi ya Mas udah sabar menunggu selama ini”
Kebahagiaan mereka begitu nyata. Masih teringat jelas ketika waktu itu Damas disuruh menceraikan Dhea karena Dhea tidak bisa memberikan keturunan untuk Damas. Tapi alasan Damas menikahi Dhea bukan karena itu, tapi karena Tuhan yang memilih Dhea untuk Damas. Dhealah perempuan terbaik untuk Damas, dan Tuhan menunjukan itu semua. Meski terlambat, tapi Tuhan memberi disaat yang tepat. Lebih baik terlambat daripada telat, bukankah seperti itu.
Tuhan mendengar do’a mereka selama ini, hanya dibutuhkan kesabaran untuk menunggu semua itu terkabul. Karena mereka sudah sabar menunggu, tuhan menjawab semua do’a mereka sekarang.
“Makasi Mas untuk semua cinta yang sudah diberikan selama ini. Untuk kasih sayang yang sederhana yang Aku terima.”
“Iya Dhe, Aku minta maaf karena selalu bikin kamu sebel Dhe, bikin Kamu cemburu sama temen-temen kantor Aku yang kecentilan. Makasi untuk tidak marah ketika Aku marah Dhe. Makasi udah mau ngertiin Aku melebihi Aku. Makasi untuk semuanya Dhe”
“Aku tau mas, meskipun Kamu tidak pernah secerewet Aku. Yang selalu blak-blakan ngomongin sesuatu. Meskipun Kamu selalu memendam semuanya sendiri Mas. Aku tahu, Kamu selalu menyayangiku Mas. Kamu hanya lupa mengatakan itu padaku. Kalau Kamu menyayangiku lebih dari Aku”
“Sebenarnya Aku kadang yang terlalu genit, tebar pesona kecewe lain padahal Aku sudah punya Kamu Dhe. Maaf ya untuk itu”
“Aku nggak apa-apa meskipun Kamu begitu Mas”
“Aku jadi takut Dhe”
“Takut kenapa Mas?” Dhea sedikit khawatir, ketakutan suaminya menjadi ketakutannya juga
“Aku takut kenyataan ini terlalu nyata. Mulai hari ini Aku akan berubah”
“Mas, kamu nggak perlu berubah. Aku mencintai Kamu apa adanya. Kamu selalu menjadi suami Aku itu sudah lebih dari cukup Mas”
“Selama ini Aku udah ngecewain Kamu Dhe, udah nyakitin Kamu. Maaf juga soal Mamah. Soal Ade tersayangku”
“Aku nggak apa-apa kok dengan mereka. Aku bisa menahannya. Aku harusnya berterimakasih sama mereka karena mereka sudah mau menyayangimu Mas, udah perhatian ke Kamu Mas, udah bikin Kamu bahagia. Selama ini kan Aku belum bisa bikin Kamu bahagia”
“Aku bahagia kok Dhe. Ketika Aku diam bukan berarti Aku bahagia kan Dhe?”
Dhea memetik buah kesabarannya sekarang. Sekarang dia punya pundak suaminya untuk bersandar. Meskipun selama ini dia hanya punya sajadah untuk bersujud, Tuhan berbaik hati memberinya sebuah pundak seseorang yang begitu disayanginya. Dalam hidup Dhea tidak penting lagi siapa orang-orang yang akan menyayanginya, tidak peduli lagi apakah dalam hidupnya hanya satu orang yang akan menyayanginya. Dan sekarang dia tahu, yang terpenting dalam hidupnya dia hanya mencintai satu orang. Suaminya, Damas.
“Maaf dhe, sejak kejadian itu. Aku berniat meninggalkanmu. Aku minta maaf, Aku selalu membuat hatimu sakit. Aku bingung, Aku mengacuhkanmu dan pura-pura menganggap Kamu sudah tidak penting lagi Dhe ada didalam hidupku. Kamu pasti sakit akan hal itu Dhe”
“Aku tahu Mas, Aku mengerti. Aku pasti sakit banget. Sejak hari itu, Aku juga sudah memasrahkan semuanya. Mungkin itu sudah menjadi takdirku, jalan hidupku harus seperti ini. Aku berusaha mengikhlaskan semuanya.”
“Maaf ya Dhe, Aku selalu jahat kepadamu selama ini”
“Meskipun Kamu begitu, Aku tidak apa-apa mas. Aku ikhlas dengan semua ini. Jangan pergi lagi dariku Mas, demi anak yang ada dikandunganku sekarang”
“Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku tidak akan pernah menemukan perempuan sepertimu lagi jika aku meninggalkanmu.”
Dhea memeluk erat Damas. Ia menangis dipundak Damas mengeluarkan semua air mata yang ditahannya selama ini. Air mata yang ia simpan sendiri ketika ia merasa tak sanggup lagi dengan sikap suaminya, Damas. Dhea hanya tidak tahu bagaimana caranya mencintai pria lain selain Damas. Hanya damas yang bisa membuatnya menjadi seorang wanita yang penurut, siap mengalah kapanpun untuk orang yang disayanginya. Dhea menyayangi Damas, hanya itu yang dhea punya untuk damas. Tidak lebih.
Damas sebenarnay pria yang baik, hanya saja hidupnya selalu ditekan oleh orang-orang disekitarnya. Ayahnya yang terlalu menuntut dia untuk ini dan itu. Dia hanya mencari pelampiasan untuk hal-hal yang sekiranya bisa membuatnya bahagia. Meskipun dengan cara yang salah.
Damas menikah sejak Tujuh tahun yang lalu dengan seorang gadis bernama Dhea. Teman masa kecilnya. Ada banyak cara Tuhan mempertemukan sebuah cinta, Tuhan memilih Dhea untuk Damas. Dhea gadis periang, cerewet, apa-apa selalu diungkapkan dengan ekspresif, sedikit tomboy. Tapi, dibalik itu semua Dhea gadis yang sabar, mau mengalah dan berkorban untuk orang yang disayanginya, begitu perhatian, penyayang, melindungi.
Sejak Tujuh tahun menikah, Damas tidak menyadari betapa beruntungnya dia menemukan Dhea. Dhea selalu saja punya cara untuk menyikapi kelakuan Damas. Entah teman-teman perempuannya yang terlalu gampangan entah Damas yang terlalu tebar pesona kemereka semua. Meskipun Damas begitu, Dhea tidak apa-apa. Tidak pernah marah dan cemburu yang berlebihan. Cemburu itu merusak segalanya, bukankah seperti itu. Bukan karena Dhea tidak menyayangi Damas, membiarkan suaminya dekat dengan perempuan lain. Dhea tidak melarang-larang lagi akan hal itu, meskipun ia sempat bilang cemburu cemburu jika ada wanita yang dekat dengannya. Hey, bukankah Dhea istri sah Damas. Dhea berhak untuk hal itu bukan? Dhea hanya ingin melihat damas bahagia. Jika dengan cara seperti itu Damas bahagia, Dhea tidak apa-apa. Mungkin Tuhan belum membukakan pintu untuk Damas. Dhea tetap sabar hidup dengan cara seperti itu. Dimana lagi akan Damas temui perempuan seperti itu.
Damas pria yang egois, suka menang sendiri, tidak mempedulikan orang lain yang dia tahu yang penting hidupnya bahagia tidak peduli meskipun akan ada banyak hati yang dia sakiti. Damas gampang sekali marah, orangnya sensitif. Dhea harus selalu memesan kesabaran yang ekstra kepada Tuhannya. Oh tuhan, dimana lagi akan Damas temui perempuan sesabar Dhea.
Tapi semua itu telah berlalu. Di tahun ketujuh mereka menikah, Tuhan menjawab semuanya. Dhea hamil, sesuatu yang sangat Damas nanti-nantikan selama ini. Tuhan mendengar jeritan hati Dhea setiap sepertiga malam. Bukankah Tuhan begitu adil kepada hambanya yang tak tak pernah bosan meminta. Bukankah Tuhan maha pemberi segala sesuatu. Itu yang Dhea punya untuk damas, selalu berdo’a.

Sekarang Damas mengerti, kebahagiaan Dhea itu terletak pada kebahagiaannya. Bagaimana ada perempuan yang rela hidup seperti itu. Mementingkan kebahagiaan orang lain diatas kebahagiaannya sendiri, bagaimana mungkin Dhea bisa melakukan itu semua dengan gembira. Dia berkorban apapun demi orang yang disayanginya. Bahkan mungkin, jika Dhea harus mengorbankan hidupnya untuk Damas, dia nggak apa-apa. Dia pasti mau dan senang melakukan apapun untuk kebahagiaan Damas. Damas beruntung mendapatkan istri seperti itu, seorang Bidadari yang mau memberikan segala-galanya untuk Damas.
bersambung..

Minggu, 19 Mei 2013

sepasang mata yang sama


Gerimis sore ini mengingatkan tasya pada kekasihnya yang kini berada di alam lain, dunia yang tak bisa tasya lihat. Tasya kembali melamun, lamunan akan sesosok pria yang pernah mengisi hari-harinya.
            “ miku, aku takut” ucap angga sedikit manja
            Angga begitu takut akan hujan. Karena hujan, adik kembarannya mati tertabrak mobil tepat dihadapannya. Karena hujan ia tak bisa lagi melihat saudara kembarnya. Hujan tak mampu berkata-kata hingga membiarkan angga hidup dalam ketakutan.
            “ayo pulang!” sapa aldi membuyarkan lamunannya
            Tasya hanya tersenyum. Sekilas ia melirik aldi, matanya sama dengan angga. Mata yang bisa membuatnya nyaman. Mata yang selalu teduh dan menyejukkan.
            Aldi adalah teman kuliah tasya, aldi anak yang lumayan pinter dan terlihat aktif saat dikelas. Wajahnya memang tidak begitu tampan, tapi orangnya dikenal baik hati dan malu-malu.
            Setiap melihat matanya, tasya takut. Takut akan suka kepadanya. Matanya sama persis dengan orang yang paling tasya sayang dalam hidupnya. Mata yang bisa membuat tasya tergoda dan luluh.
***
            Nyanyian senja masih menerbangkan butiran-butiran debu sore hari. Cahayanya mulai redup dan menjelma masuk menjadi malam. Gelap seperti warna dihidupnya. Perasaan kehilangan, kehilangan seseorang yang mengajarinya tentang warna-warna kehidupan, seorang pria bernama angga. Angga satrio wilopo yang meninggalkan dunia karena terkena penyakit kanker pankreas yang harus menghilang meninggalkan tasya.
            Luka terindah yang masih menancap dihati perlahan mulai menyamar, walaupun dunianya penuh dengan warna-warna gelap, warna terang hilang begitu saja bersama hilangnya angga.
            Dan kini saat tasya melihat teman sekelasnya yang matanya sama dengan angga, warna-warna terang mulai tumbuh kembali.
            “apa aldi sudah punya sandaran saat dia gelisah?” gumam tasya lirih sambil memandang bulan yang terlihat separo.
            Memang aldi bukanlah angga , bukan orang yang tasya kenal. Bukan orang yang tasya sayang. Bukan orang yang tasya kagumi, bukan orang yang mencintai tasya apa adanya, bukan orang yang melindungi tasya dengan segenap hati. Dan aldi jelas bukan angga, bukan !
            Tapi kenapa matanya harus sama. Apa aldi yang dikirim angga agar mengembalikan warna dalam hidup tasya. Mungkinkah aldi diciptakan untuk tasya sebagai pengganti angga, ataukah aldi yang ditugaskan angga untuk melindungi tasya. Aish lagi-lagi semua ini hanyalah teori indah dalam khayalan seorang gadis yang kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya, angga.
***
            Udara yang begitu panas masuk melalui celah-celah jendela. Cuaca tak begitu bersahabat hingga menerobos menembus pori-pori. Memori-memori masa lalu berjalan pelan dipapan tulis, melambai-lambai menyapa tasya, dia merasa begitu gerah. Jam tangan yang melingkar ditangan kanannya berputar begitu lambat seperti siput.
            Tasya sedikit gelisah. GILA, laki-laki yang duduk disebelahnya membuat tasya deg-degan. Ia masih memperlakukan dan menganggap aldi sebagai angga. Tasya masih belum bisa membedakan mana kenyataan dan mana yang impian.
            Tanpa sadar, sedari tadi aldi setia memperhatikan tingkah tasya yg gelisah. Setelah sekian lama tasya tersadar, tasya merasa malu. Aish lagi lagi malu, atau lebih tepatnya perasaan khas seorang perempuan, entah apa itu namanya.
            “lagi nulis apaan?” tanya aldi memecah kekakuan
            “enggak” saut tasya singkat
            “boleh aku baca?” tambah aldi sambil mengintip tulisan tasya
            “hehe..boleh, silahkan!”
            Tasya merasa sedikit aneh saat menyerahkan bukunya pada aldi. Aldi begitu antusias membacanya, lalu kemudian memandang tasya lekat-lekat.
            “siapa memangnya?” tanya aldi terlihat serius
            “kamu” sergah tasya kembali menatap mata aldi, kemudian tersenyum
            “aku takut disaat memandang matamu” ungkap tasya tulus
            “banyak kok yang ngomong begitu” jawab aldi terkekeh
            “aku takut kalo nantinya aku suka sama kamu” batin tasya, tersenyum.

            Kemudian tasya berdiri dan berlalu dari aldi. Tasya takut berlama-lama dengan orang yang matanya sama dengan orang yang paling disayanginya. Jika semua hal yang ada di dunia ini mempunyai alasan, bagaimana mungkin ia tidak tau alasan kenapa hatinya berpacu lebih kencang dihadapan orang yang punya mata sama dengannya.
***
            Ditengah senja di dalam kamar tasya sedang berkhayal tentang mimpi-mimpi yang pernah ia bangun bersama angga, kekasihnya. Ketika ia sadar, takdir berkata lain. Tuhan bilang mereka tak jodoh. Sebelum benar-benar terlelap, cahaya lampu berhasil menangkap barisan puisi diatas kertas diary bersampul doraemon milik tasya.
Dikelas ini...
Aku menemukan sosokmu
Mata yang sama dengan punyamu
Aku takut saat melihatnya
Takut...
Tak bisa membedakan kalau dia bukan kamu
Kenapa harus sama?
Aku seperti melihatmu
Aku takut melihat matanya
Apa kamu datang kembali melalui sosoknya?
Mungkinkah...
***
Hari ini, entah karena apa tasya ingin berangkat ke kampus lebih pagi sebelum jam kuliah benar-benar dumulai.
            “sya..” sapa iska sambil melambaikan tangan
            Tasya membalas lambaian tangan temannya dan duduk mendekati iska. Kemudian keduanya asik berselancar di dunia maya.
            “eh, liat sya! Ini punya aldi kan?” tanya iska sambil menunjuk layar biru yang ada ditabletnya.
            “aku belum nge-add” jawab tasya datar
            “udah tau belum?” tanya iska sok serius
            “tentang apa?”
            “tentang kisah cintanya aldi, so sweet” jawabnya lagi terdengar polos
            Dada tasya menjadi sangat sesak saat mendengar iska bercerita. Air matanya perlahan jatuh menetes didalam hati, yang membuatnya merasa teramat sakit. Sekarang dia tau, perasaannya tak patut dan mungkin tak layak untuk direalisasikan. Aldi yang begitu setia dengan pujaan hatinya. Tasya harus segera tersadar dan menepis kalau pada kenyataannya aldi itu benar-benar bukan angga. Hati tasya merasa gundah, karena harus bertolak belakang dan tak bisa mengikuti apa kata hatinya.
            “aldi, tidakkah kamu ingin mengatakan sesuatu padaku?” ungkapnya dalam hati sambil berlalu ngloyor meninggalkan iska.
            Sesaat jantungnya berdebar, hampir ia tak dapat menguasai perasaan yang sudah tak pantas tasya harapkan. Selaput bening mulai terlihat menggantung dipucuk bola matanya. Dan saat tasya menyadari perasaannya yang sesungguhnya, tetap saja aldi bukanlah angga. Ia masih berharap kalau sebenarnya aldi adalah sosok lain dari angga yang akan menyayanginya dengan tulus. Tapi, sayangnya kenyataan tak begitu. Perasaan kehilangan yang membuatnya merasa ikut menghilang.

lelaki pencuri mimpi


Aku lari terkakung-kakung, keringat dingin menetes melintasi pipiku. Jantungku berdebar cepat mengikuti cepatnya ayunan langkah kakiku. Hawa panas bercampur bau matahari menambah tegang suasana. Daun-daun yang diterpa angin serasa mengejek menertawakan keadaanku saat ini, semut-semut yang berjalan diatas tiang-tiang besipun ikut mengumpat meledek padaku. Entah sudah berapa lama aku membiarkan sahabatku menunggu terlalu lama.
“ngapain aja sih, lama banget” sergap via, sahabatku.
Kujelaskan alasan keterlambatanku, walau dia sedikit murung. Tapi kemudian dia tersenyum dan memaafkanku. Hari ini via berulang tahun, umurnya sudah 25 tahun, persis seperti aku dan lelaki itu.
Lelaki yang telah menarik hatiku, lelaki bermata indah dengan kacamata yang membuatnya semakin unik. Lelaki berkulit hitam yang begitu baik padaku. Lelaki itu adlah temanku, teman sekelasku. Dulu, waktu aku masih berseragam putih abu-abu. Namanya arfi, begitu teman-teman memanggilnya. Menurut hasil penelitian dan pengamatan sahabatku, arfi adalah anak orang kaya, terhormat dan berstrata tinggi. Dia masih ada keturunan orang alim, dari hasil sementara yang diperoleh mbahnya adalah salah satu pengasuh pondok pesantren di lirboyo, kediri. Tapi yang ku ketahui dia anak yang nakal, suka kluyuran dan klayaban, suka pulang pagi dan hidupnya ngalor ngidul nggak jelas.
Tapi entah magnet apa yang bersemayam dalam tubuhnya, hingga aku begitu jatuh hati padanya. Aih, lagi lagi masalah cinta tak dapat dinalarkan. Aku tak mengerti alasan aku menyukainya, bahkan seluruh duniapun tahu dia sering kali dijadikan contoh oleh guru dan teman-temannya, contoh yang buruk.
Bagiku, ucapannya kala itu hanya gurauan anak SMA yng tak bisa dipercaya. Aku begitu merindukan sosoknya. Sekarang, dia seperti ditelan bumi tak ada kabar sama sekali. Dulu kami sempat akrab dan terbiasa sms-an kaetika malam mulai menyapa.
Aku tak begitu mengerti asal muasalnya, tapi kebiasaannya adalah mengirimiku sms ketika tengah malam, saat aku mulai terkantuk-kantuk. Walau begitu aku tetap setia membalas sms-smsnya. Hingga suatu malam kami bahkan sempat bersms ria sampai jam tiga dini hari, tepat sepertiga malam. Saat aku hendak melaksanakan salat tahajud, bukti cintaku pada maha pembuat cinta. Akupun berdo’a dan berharap bisa menggelar sajadah bersama lelaki itu, lelaki berkamacata yang berkulit hitam. Lelaki bernama lengkap alwan daniel arfiansyah. Walaupun dia nakal atau apalah istilah yang tepat untuknya, aku maish saja tak dapat membencinya dan melupakannya sampai sekarang.
Terkadang sahabatku sendiri, via acapkali menganggapku gila dan bodoh.
“kau cantik, baik, sopan, sholehah. Lelaki mana yang tidak mau denganmu? Eh kamu malah kepincut sama cowok nggak bener model arfi” kata via menasehatiku waktu itu
“tuhan lebih tau dariku” jawabku selalu begitu, bahkan mungkin via sampai bosen mendengarnya.
Via begitu karena via menyayangiku dan masih tetap menganggapku sahabatnya. Bahkan dia selalu berharap semoga suatu saat arfi juga akan mencintaiku seperti aku mencintainya, cinta yang tumbuh karena Allah. Sepertinya begitu, kuharap cintaku pada lelaki  berkacamata itu bukan cinta karena nafsu.  Dan semoga cintaku pada lelaki berkulit hitam itu bukan cinta semu. Biarpun begitu, aku akan tetap menjaga perasaanku, aku akan tetap mencintainya walau hanya dalam diamku. Aku sangat ingin menjaga cinta suci yang tuhan titipkan dihatiku sampai saatnya nanti, sampai halalku bersamanya. Jika tuhan mengijinkan.
Setiap hari aku tak lupa berdo’a seusai sujudku. Kupanjatkan rangkaian kata-kata kepada  pengusa alam semesta, maha pembuat cinta. Aku sangat ingin tuhan membimbing lelaki nakal yang kucintai dalam diamku itu, aku ingin dia menjadi pembimbingku dan contoh bagi anak-anakku kelak. Semoga dia bisa menjadi suami yang bisa menyejukan hati istrinya dengan agamanya. Setiap hari, tak lupa rentetan kalimat-kalimat itu kubaca sesudah melaksanakan bukti cintaku pada maha pembuat cinta yang telah menyelipkan rasa dihatiku.
***
Selimut hitam berhias cahaya bintak dan rembulan yang muncul separo menemani malamku, diberanda dapan rumahku. Bunyi jangkrik terdengar mesra ditelingaku, gemericik air dikolam ikan sebelah tanaman mawarku menambah nikmat alunan yang bersautan dengan semilir angin malam, beradu dengan lamunanku. Tentang lelaki berkacamata itu, lelaki yang selalu ,encuri malamuku, mengambil jatah mimpiku. Sampai detik ini masih ada tanda tanya besar yang selalu mengganggu waktuku. Kenapa aku bisa mencintai lelaki seperti itu, lelaki nakal, apa aku tak begitu pantas mendapatkan lelaki baik-baik? Kenapa harus lelaki seperti itu yang kucintai, lelaki yang selalu menjajakan cinta pada setiap permpuan. Apa aku tak pantas mendapatkan lelaki yang selalu istiqomah menjaga hatinya?
Astagfirullah, segera kutampik lamunan burukku. Semua pasti  ada alasannya, walau aku tak pernah tau itu apa. Tuhan jauh lebih tau dariku. Mungkin saja lelaki pencuri mimpiku ini belum bermetamorfosis secara sempurnna. Masih belum menemukan jati dirinya dan masih terombang-ambing kesana kemari mengikuti arus keegisan dunia. Dan tetap saja aku masih berharap padanya, dan menggantungkan harapanku pada maha pembuat cinta.
***
            Sore ini, saat senja belum mau menampakkan keindahannya, mutiara bening dari atas langit yang jatuh melalui ember-ember raksasa perlahan muli mengguyur kawasan rumahku. Menyegarka mawar-mawar yang lupa kurawat. Menikmati setiap tetes air yang jatuh diatas kerikil-kerikil kecil ditaman. Derasnya air membuat mataku buram ketika ada sebuah mobil mercy warna hitam memasuki halaman rumah. Sosok yang tak lagi asing bagiku keluar dari dalm mobil yang kini sudah basar terkena air hujan, lelaki itu....
            Iya, lelaki cinta pertamaku. Lelaki pencuri mimpiku. Betul sekali, lelaki berkulit hitam yang memakai kacamata itu mendekati dan menghampiriku. Aku kaget dan segera berdiri sambil menyungging senyum paling bahagia. Langkahnya semakin mendekatiku. Kini lelaki itu terlihat bijaksana tdak sepeti dulu, saat masih menikmati masa sekolah dulu. Ia mengedipkan mata menggodaku, sekarang dia sudah bekerja, hidupnya tak sesemrawut dulu. Kini dia sudah menjadi lelaki yang mampu bertanggung jawab.
            Lelaki itu menguluk salam dan kubalas dengan manja. Kini dia sudah menjadi lelaki yang taat menjalankan perintah tuhannya. Tak senakal dulu, yang selalu hura-hura. Ia mengulurkan tangan, menjabat tanganku. Aku menyalaminya dan ku kecup tagan hitamnya.
            Sekarang aku semakin mencintai lelaki pencuri malamku yang kini berdir dihadapanku. Dia menarik tanganku, seperti saat adegan-adegan film romantis yang dulu pernha kutonton bersama via, sahabat karibku. Lalu dia memeluk dan mendekapku erat penuh cinta. Dia mengecup keningku dan berucap lirih
            “istriku, ayo masuk! Hujan sedan berpihak pada kita. Kasur empuk sedang menanti kita didalam.” Katanya sambil menggandeng tanganku dan masuk kedalam istana yang dia bangun untukku.
Sampai saat ini, dulu, dan seterusnya aku akan mencintai suamiku karena-Nya. Maha pembuat cinta yang menyelipkan rasa padaku dan lelaki berkacamata yang sekarang menjadi suamiku. Terimakasih tuhan telah membimbing dia untukku.

Rabu, 03 April 2013

Don’t Ever Leave Him Alone









Tanpa kekosongan, siapapun tidak akan bisa memulai sesuatu. Hari ini aku yakin, manusia dirancang untuk terluka. Semua bermula dari aku mengenal perasaan itu. Aku, pria bersepatu hitam itu dan Mba Fanella.
Udara dingin memaksa masuk menembus pori-pori hingga ke tulang. Senja baru saja tenggelam di pelataran langit. Tikar digelar di atas awan diterangi cahaya bulan yang masih terlihat separo, bintang-bintangpun enggan menampakkan kerlipnya.
Dari dulu, aku tak pernah bersahabat dengan hawa dingin. Pria bersepatu hitam itu juga dingin, bahkan selalu dingin. Namanya Mas Ray, Reihan.
Mas Ray baik padaku, dia memanggilku kelinci. Katanya, karena aku selalu berkhayal dan berharap suatu saat bisa memakaan telur kelinci. Makanya Mas Ray memanggilku Kelinci.
Aku bukan seorang yang halus. Mungkin karena Bapak Ibuku bukan makhluk halus. Tapi Mas Ray tidak mengeluh. Dia selalu baik padaku, bahkan setelah kami memutuskan untuk menikah.
Sampai sekarang aku masih heran, bagaimana mungkin dia baik pada wanita yang telah masuk kedalam rumah tangganya. Ini rumit, terlalu rumit untuk selalu aku pikirkan.
Sebenarnya sebelum Mas Ray menikahiku. Dia terlebih dahulu menikah dengan Mba Fanella. Malaikatku, perempuan yang selalu dibanggakan Mas Ray.
Kejadiannya bermula sepuluh tahun yang lalu.
Saat aku masih duduk dibangku kuliah. Aku seorang kristiani yang taat. Aku dibaptis oleh Pamanku sejak umurku dua tahun. Aku tinggal di Bali dengan mayoritas penduduknya beragama Hindu.
Kata sebuah buku, Indonesia begitu berwarna. Mulai dari agama keragaman budaya, hingga keunikan masakan khas daerah. Sayang, hatiku tak pernah berwarna, selalu abu-abu.
Mungkin karena aku memilih cinta yang salah. Bukankah cinta tidak memilih dan dipilih? Tapi bukankah hati manusia kadang dipaksa untuk tumbuh ditempat dan orang yang salah? Mungkin Mas Ray tidak salah. Akulah yang salah, aku memaksanya menikahiku.
Aku tergoda oleh kepintaran Mas Ray. Aku bertemu dengannya disebuah seminar. Seminar yang membahas imajinasi manusia. Seperti imajinasiku akan telur kelinci. Waktu itu Mas Ray geleng-geleng kepala melihat kekonyolanku.
Lalu aku berkenalan dengannya. Dia seorang muslim. Dia bukan orang yang fanatik. Dia menerimaku, maksudku sebagai seorang teman karena dia sudah beristri. Mba Fanella, malaikatku perempuan yang selalu dibanggakan Mas Ray.
Kami berdua sering berdiskusi dalam hal apapun. berdiskusi tentang imajinasi manusia, soal agama, mengenai ilmu-ilmu dan bahkan masalah perasaan. Perasaanku terhadap Mas Ray. Iya aku mengutarakannya kalau aku mencintainya. Sangat, teramat sangat.
Sejak hari itu Mas Ray berubah jadi dingin hingga sekarang. Tapi Mas Ray tetap baik padaku. Entah perasaan seperti apa yang patut diucapkan, mungkin hancur. Aku mengetahui kalau Mas Ray sudah mempunyai sandaran hidup. Itu terucap dari mulut Mas Ray sendiri, bagaimana mungkin?
Aku terlanjur terbiasa dengan Mas Ray. Bukankah cinta itu kebiasaan? sebelumya, dia lelaki yang perhatian. Apa aku salah mengartikannya? Bagaimana mungkin aku bisa salah? Aku mahasisiwi psikologi. Mahasiswi semester pertama saja sudah paham tentang aksi-reaksi seperti itu, apalagi aku. Mana mungkin aku bisa salah.
Aku mencoba menghindar. Lebih tepatnya aku ingin lari menjauh. Perasaan ini sudah tak pantas untuk direalisasikan. Mas Ray telah dimiliki oleh seseorang, Mba Fanella, malaikatku. Perempuan yang selalu dibanggakan Mas Ray.
Sejauh apapun berlari, selama apapun aku bersembunyi. Namanya perasaaan tak akan mampu kubohongi. Apalagi aku mencoba menangkis dan memangkas tunas-tunas yang tumbuh subur dihatiku. Bagaimana mungkin lelaki yang satu itu susah untuk dilupakan?.
Hari ini aku diajak temanku, Wahyu. Dia orang yang baik. Dia tahu kisahku dan Mas Ray. Wahyu membantuku mencari kesibukan agar tak ada waktuku untuk memikirkan Mas Ray. Mulai hari ini aku mengajar anak-anak jalanan.
Dari anak-anak itu aku belajar mengenai kejujuran dan sikap apa adanya. Ada empat orang yang ikut mengajar, Mas Jarot, Wahyu, Aku dan Mba Senja. Mba Senja baik dan cantik, secantik senja disore hari.
Mba Senja sudah menikah. Dia sering bercerita tentang suaminya. Suami yang pengertian dan mau mengalah seperti impian semua wanita di seluruh dunia. Aku iri pada Mba Senja. Dia seperti saudaraku sendiri, teramat baik. Aku berjanji tak akan melukai perasaannya.
Mba Senja seorang muslimah yang santun. Dia tampil apa adanya, seperti anak-anak yang ia didik. Mba Senja pintar sekali membuat kue tapi, kue buatannya tidak pernah lebih enak dari kue buatanku. Mba Senja sering memintaku mengajarinya membuat kue seperti kue buatanku. Katanya, suaminya suka kue.
Hari ini mendung, langit menangis. Bagaimana mungkin awan-awan diatas sana bersedih, aku sedang berbahadia bersama Anak-anak dan Mba Senja. Kami semua diajak jalan-jalan ke Ancol oleh Mas Jarot. Mas Jarot baru saja mendapat rezeki banyak, katanya tadi sebelum kami berangkat.
Dadaku sesak, nafasku tiba-tiba naik turun. Mba Senja terlihat buram dan goyang-goyang. Bukan Cuma Mba Senja, Anak-anak, Wahyu, dan Mas Jarot. Semuanya bergoyang, nampak samar di mataku. Aku ambruk seketika.
Ku kucek mataku tiga kali, ku edarkan pandanganku kesekitar. Mba Senja tersenyum, katanya aku akan baik-baik saja. Aku menangis, bagaimana mungkin aku akan baik-baik saja? Mba Senja tidak tahu.
Entah untuk hari yang keberapa aku lupa akan penyakitku. Aku tak pernah berbuat baik, hatiku saja tidak baik. Hatiku sakit, kanker hati. Bagaimana mungkin aku bisa berbuat baik?.
Aku rajin mengunjungi gereja. Aku berkonsultasi dan membuat pengakuan pada Pastur. Aku melakukan penebusan dosa. Aku merasa hidupku tak akan lama. Aku pasrah jika aku harus pergi sekarang. Apa gunanya aku hidup jika aku tak bisa bersama dengan orang yang aku sayang, Mas Ray.
Sore ini hujan deras mengguyur kawasan rumah Mba Senja. Aku diajaknya berkunjung dan dia memintaku untuk mengajarinya membuat kue, seperti permintaannya hari-hari lalu.
Rumah Mba Senja besar. Suaaminya yang membuatkan istana ini untuknya. Mba Senja memang beruntung, sungguh aku iri padanya. Aku diajak berkeliling melihat-lihat keadaan rumah.
Mataku tertarik melihat sebingkai foto. Tepatnya foto pernikahan Mba Senja dengan suaminya. Aku kaget, bahkan tersenyum getir. Bagaimana bisa lelaki itu ada bersama Mba Senja. Perempuan yang selalu tulus berbuat baik padaku.
Foto itu alami, mata lelaki itu tulus mencintai gadis yang ada disebelahnya. Lelaki tinggi berkacamata itu aku kenal. Iya, aku sangat tahu siapa lelaki itu. Bukankah dia adalah lelaki yang selama ini ingin aku lupakan, Mas Ray. Bagaimana mungkin? Aku semakin tidak paham.
Aku mencoba bertanya pada Mba Senja. Lelaki itu suaminya, Namanya Mas Ray. Mba Senja menjelaskan dengan semangat bahagia. Batinku menolak.
Nama malaikatku Fanella Senja. Mba Fanella adalah perempuan yang sama, perempuan yang selalu berbuat baik padaku, Mba Senja. Aku menggelengkan kepala tidak percaya. Ini tidak bisa masuk jangkauan akal nalarku.
Mas Ray pulang, aku canggung dan ragu ketika menjabat tangannya. Mas Ray tersenyum, senyumnya selalu bisa meluluhkan hatiku. Aku masih tidak bisa melupakannya.
Nafasku berhenti dikerongkongan. Aku pamit pulang dan berjalan sempoyongan. Mba Fanella mencemaskanku. Seperti biasa, dia selalu baik padaku. Bukan cuma hatiku yang sakit, perasaanku semakin hancur. Aku mencintai suami malaikatku sendiri. Mba Fanella, perempuan yang selalu dibanggakan Mas Ray.
Aku dilarikan kerumah sakit. Besok malam Natal, Pamanku sedang pulang ke Bali menemui keluarganya. Aku sendirian, bukankah aku selalu sendiri? Mba Fanella menemaniku, dia memang selalu baik padaku.
Aku memintanya membeli Pohon natal dan menghiasnya. Tak apa aku merayakan Natal sendirian di Rumah Sakit. Aku sudah terbiasa sendiri bukan? Puji syukur Tuhan masih membiarkanku menikmati malam Keberkahan, malam Natal. Terima kasih Tuhan.
Keesokan paginya Mba Fanella menjengukku bersama Mas Ray. Aku tak ingin bertemu Mas Ray. Aku tak ingin terluka. Bagaimana bisa aku melihat lelaki yang kucintai berduaan bersama istrinya. Mba Fanella, malaikatku. Perempuan yang selalu dibanggakan Mas Ray.
Mas Ray pulang, Mba Fanella menemaniku. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Jika aku mengikuti kata hati, aku akan melukai perasaan malaikatku, Mba Fanella.
Jika karena hal ini aku tidak jujur. Aku rasa ini tak adil. Bagaimana aku akan bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku harus mengatakannya, setidaknya membagi beban perasaanku dengannya.
Aku menangis, Mba fanella menangis, namun awan di atas sana enggan ikut menangis. Haruskah hanya kami berdua yang bersedih?
Mba Fanella memang selalu baik padaku. Dia menerimaku. Dia ikhlas jika harus berbagi perasaan denganku. Bagaaimana mungkin?  Hati cuma ada satu, dan itu tak akan bisa terbagi. Bagaimana Mba Fanella bisa? Dia memang malaikatku.
Seminggu kemudian aku menjadi seorang muslim, aku masuk Islam. Bukankah Indonesia begitu toleran dengan kebebasan beragama. Begitupun aku sekarang. Memperoleh kebebasan itu. Aku menangis terharu. Di dunia ini ternyata ada malaikat sebaik Mba Fanella.
Aku sembuh, tepatnya membaik. Aku boleh pulang, begitu kata dokter yang merawatku. Sore ini aku akan diajari mengaji sama Mba Fanella. Iqro satu, kata iqro begitu asing di telingaku. Sejak dulu aku terbiasa dengan Bibel.
Angka satu yang diatasnya ada tanda strip namanya A. Sedangkan perahu yang di bawahnya ada satu titik namanya Ba. Itu pelajaran pertama hari ini, kata Mba Fanella aku akan cepat bisa. Dia juga memberiku buku tuntunan sholat.
Sholat ternyata sama dengan berdoa pada hari sabtu dan minggu. Bedanya sholat dilakukan dalam sehari selama lima kali. Aku jadi senang mempelajari Islam, agamaku sekarang.
Lima Ratus Dua Puluh Lima Ribu Enam Ratus menit sudah kulalui sebagai seorang wanita muslim. Aku sudah sedikit banyak tahu. Aku sudah bisa sholat lima waktu dan belajar membaca Al-qur’an. Sungguh kemajuan yang cepat, ucap Mba Fanella bangga padaku.
Hari ini aku melangsungkan pernikahan dengan Mas Ray di rumah sakit. Aku yang memaksa. Aku takut disaat aku akan pergi, aku belum bersuami. Mba Fanella ikhlas, katanya begitu.
Aku takut aku tak bisa setia dengan Mas Ray seperti Mba Fanella. Tuhanku saja berani ku khianati apalagi Mas Ray nanti sebagai manusia biasa.
Mungkin benar, hati seseorang manusia itu memang cuma ada satu. Selamanya tak akan terbelah. Mas Ray memang suamiku sekarang, tapi hatinya hanya untuk Mba Fanella seorang.
Setiap manusia selalu punya firasat. Mba Fanella tiba-tiba berubah aneh. Dia berbicara seakan-akan mau pergi jauh dan tak akan kembali. Sebelum Mba Fanella pamit pulang di berpesan padaku. Jangan pernah tinggalkan Mas Ray sendirian. Setelah itu aku tak sadarkan diri, aku kritis ketika Mba Fanella sudah dalam perjalanan pulang.
Mas Ray khawatir kala menerima telepon dari rumah sakit. Aku selalu membuat orang panik. Mba Fanella juga gugup ketika menyetir. Mobilnya oleng dan menabrak tembok jembatan. Mba Fanella kritis, lebih parah dibandingkan aku.
Mba Fanella terlalu baik, selalu baik padaku. Aku tak akan pernah bisa membalas kebaikannya. Bagaimana mungkin aku akan membayar semua kebaikan seorang malaikat? Perempuan yang selalu dibanggakan Mas Ray.
Aku teringat dulu waktu pertama kali aku bertemu dengan Mba Fanella. Dia orang yang baik, seorang sukarelawan yang mau mengajar anak-anak jalanan tanpa mendapat honor. Dia memang malaikat dan akan selamanya jadi perempuan yang selalu dibanggakan Mas ray.
Ketika Mba Fanella merengek padaku untuk diajari membuat kue untuk suaminya, bahkan sampai sekarang kue buatannya tak pernah lebih enak dari kue buatanku. Sekarang aku yang akan selalu membuatkan kue untuk suaminya, suamiku juga. Mas Ray.
Saat aku memelas pada Mba Fanella untuk berbagi suami denganku, dia terlihat ikhlas. Walau kutahu batinnya menolak. Hatinya terluka, bagaimana mungkin aku setega ini menyakiti perasaan malaikatku sendiri. Perempuan yang selalu dibanggakan Mas Ray.
Jelas masih teringat dimemory otakku, saat Mba Fanella cemburu ketika aku mengabarkan bahwa aku hamil. Mba Fanella teramat cemburu, tapi dia berhasil bersikap wajar dan turut bahagia. Karena Mba Fanella sangat tahu kalau dirinya tidak bisa memberikan seorang anak pada suami kami berdua, Mas Ray.
Tak bisa kulupakan kala jagoan kami bertiga lahir. Mba Fanella menangis bahagia walau kutahu sebenarnya dia juga ingin memberikan buah hati pada suaminya tercinta, suamiku juga. Mas Ray. Mba Fanella selalu bisa bahagia saat kami bersama-sama. Dia memang malaikatku, perempuan yang selalu dibanggakan Mas ray.
Saat aku tersadar. Aku tahu Mba Fanella telah tiada. Dia mendonorkan hatinya untukku. Nyawanya tak bisa ditolong, darah yang keluar tak bisa dibendung. Dialah malaikatku, perempuan yang selalu di banggakan mas Ray.
Aku memegang dadaku, mba Fanella hidup disana. Janjiku, aku tak akan pernah membiarkan lelaki itu sendirian, suamiku dan Mba Fanella. Daun-daun kering beterbangan mengundang hujan, langit kembali berduka ketika aku mengingat Mba Fanella, malaikatku. Fanella Senja. Perempuan yang selalu dibanggakan Mas Ray.